Logo

087860080239

  • Om Swastyastu, Selamat Datang di Website Resmi Desa Kedisan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli
Kamis Pahing
Logo

I Nyoman Gamayana

Kepala Desa

Selamat Datang di Website Resmi Desa Kedisan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Untuk mengetahui lebih lengkap tentang Desa Kedisan,silakan klik website kami. Suksma


Foto Galeri

gotong royong

LIHAT LAINNYA

Video Galeri

Mistis Bali

LIHAT LAINNYA

Jajak Pendapat

bagaimana pendapat anda tentang website desa kedisan ?

    Res : 6 Responden

Baca Artikel

Sejarah Desa Kedisan

Oleh : kedisan | 02 November 2015 | Dibaca : 546 Pengunjung

Menurut lontar " Arya Bang Sidemen " koleksi dari Ketut Sudarsana, Banjar Basangtamiang, Kapal, Mengwi, Badung, tersebut Ida Penataran, menikahi putra Kyayi Agung Petandakan yang bernama I Gusti Ayu Bringkit, dari treh Shri Nararya Kepakisan. Ida Penataran juga bergelar I Gusti Kacang Pawos atau juga I Gusti Kacang Dawa, bergelas I Gusti Kacang Pawos karena beliau berpuri di Kacang Pawos. Beliau dikaruniai du putra yaitu : I Gusti Ngurah Dimadè dan adiknya dari lain ibu bernama I Gusti Ngurah Bija. I Gusti Ngurah Dimadè dititahkan oleh sang ayah untuk berpuri di Sindumerta (Sidemen), yang tujuanya agar dekat dengan Khayangan Besakih. Mulai saat itu bergelar I Gusti Ngurah Singarsa, yang menurunkan Arya Wang Bang Sidemen. Pada candra sangkala : Indra Sangara Tasiking Bhumi (5441), tahun isaka 1445, tahun masèhi 1523, dikerajaan Gègèl muncul perselisihan antara raja dan pengabdinya yang tanpa diketahui latar belakang masalahnya dengan pasti, untuk itu I Gusti Kacang Pawos atau juga I Gusti Kacang Dawa, meninggakan wilayah menuju kesuatu tempat, dan akhirnya beliau tiba di Dèsa Aan Klungkung. Setibanya di Dèsa Aan Klungkung belau diterima oleh Ki Pasek Katrangan, keturunan dari Pasek Gègèl. Setelah kurang lebih lima tahun Beliau I Gusti Kacang Dawa tinggal di Dèsa Aan Klungkung, akhirnya pada candra sangkala : Windhu Wisaya Warihing Prabu (0541), tahun isaka 1450, tahun masèhi 1528, beliau I Gusti Kacang Dawa akhirnya berkeinginan untuk meninggalkan Dèsa Aan, untuk mengiringi kepergian I Gusti Kacang Dawa, maka putra dari Ki Pasek Gègèl Aan yang bernama Ki Pasek Ktrangan agar mengiringi beliau menuju suatu wilayah yang lebih nyaman, disamping itu pula diberikan Gelung Panji sebagai tanda kesetian ( gelung panji tersebut masih tersimpan di pura pasek kedisan, versi lontar brahmana purana ).
 
Tidak dikisahkan perjalanan beliau bersama rombongan akhirnya I Gusti Kacang Dawa, tibalah disuatu tempat yang terasa aman ( yang dalam bahasa bali kuno disebut dengan Jelujuh ) disanalah beliau bersama rombongan membuat tempat tinggal dan membuka lahan perkebunan, dan setelah beberapa lama berada diwilayah yang baru tersebut, akhirnya I Gusti Kacang Dawa bersama dengan Ki Pasek Katrangan, berkeinginan untuk mendirikan sebuah dèsa, dilakukan musyawarah tentang letah dèsa tersebut. Dalam muysyawarah tersebut disepakati untuk membuat dèsa disebelah timur laut dari tempatnya berkebun ( kebwan/kebon). Wilayah timur laut tersebut adalah hutan belantara, yang banyak dihuni oleh burung beranèka species (paksya), dan paksya dalam bahasa bali lumrah disebut dengan nama kedis, dan mengingat kedatangan I Gusti Kacang Dawa dan rombongan dari Dèsa Aan, maka Dèsa atau wilayah tersebut diberi nama Kedisan. Secara resmi Dèsa Kedisan berdiri pada Apuy Awtaraning Jaladhi Candra (3641), tahun Isaka 1463, tahun Masèhi 1541. Dima
na penduduknya bukan orang Bali Mula, melainkan penduduk Aga dari Gunung Raung Jawa Timur menjadi iringan Rsi Markandya sekitar 800 orang ( lontar markandya purana).


Oleh : kedisan | 02 November 2015 | Dibaca : 546 Pengunjung


Artikel Lainnya :

Lihat Arsip Artikel Lainnya :